| Ali Hanafia |
Catatan Pena Anak
Rantau adalah sebuah ungkapan bagaimana isi hati seorang anak rantau yang jauh
dari kampung halaman. Disini merupakan catatan-catan kecil yang saya ungkapkan
kepada teman-teman semua. Semua apa yang saya tulis disini adalah perjalanan
hidup saya selama kurun waktu yang telah ditentukan Tuhan kepada saya.
InsyaAllah.
Lansung saja ya Brooo!!!
Nggak usah
panjang-panjang mukaddimah. “J”
Hampir
empat tahun saya di rantau orang, hanya tiga kali pulang kampung. Itupun ketika
lebaran Idul Fitri datang. Tidak heran nasib seorang anak rantau memang harus
dilalui meskipun pahit dan manisnya di negeri orang. Sudah menjadi makanan dan
aktifitas sehari-hari bagi anak rantau.
Dirantau
orang merupakan tidak asing lagi bagi saya. Mengapa saya katakana demikin ?
karena senjak Bunda (Ibu) meningglkan kami semua. Saya sudah mendiri, dari
sejak kelas tiga SD. Mulai dari MTs sampai sekarang setiap tahun itu bisa saya
hitung pulang kampung.
Perjalanan
hidup saya memang bisa dikatakan agak sedikit berbeda dengan kawan-kawan saya,
baik masa SMA maupun masa kuliah ini. Berbeda dalam hal apa saja. Sehingga saya
sering sendiri, melihat kondisi saya yang apa adanya, terkadang juga saya
sering menangis meliahat kondisi keluarga dikampung.
Cerita-cerita
kecil inilah yang menghiasi perjalanan hidup saya. Menjadi sebuah benteng
ketahanan hidup di negeri orang ini. Jika saya bercerita dengan menulis
seberapa kisah hidup saya, mungkin tak sanggup lembara demi lembaran untuk
menghitungnya. Sehingga saya tak bisa mengungkapkan dengan tulisan-tulisan ini.
Berhubung juga saya tidak suka menulis. “J”
Semua
yang saya lalui itu merupakan jalan yang sangat panjang. Dan masih panjang.
Tidak cukup sampai disini. Sesuai dengan cita-cita dalam sanubari ini. Saya
akan tetap menjalani apa tujuan yang ingin saya capai. Memang setiap tujuan itu
perlu ada tantangan yang harus kita lalui. Tapi saya sudah terbiasa dengan hal
yang demikian.
Sebuah
perjalanan yang panjang, merupakan sejarah yang selalu saya ukir setiap langkah
kaki ini. Dari kampung halaman yaitu sebuah Desa yang sangat tertinggal dari
yang lainnya. Dan sebuah Dusun yang sangat jauh dari jalan raya dihutan yang
berentara, hanya satu-satunya rumah yang paling ujung hutan. Sehingga saya
sering dipanggil sebagai orang hutan karena saya tinggal dihutan yang tidak ada
lampu lestrik dll. Desa Ulul Dayang dan Dusun Parudian, Kec. Teupah Selatan,
Kab. Simeulue, Aceh itulah kampung saya.
Perantauan
yang sangat jauh ke Banda Aceh, yang hanya modal pas-pasan membuat saya semakin
dewasa menjalaninya. Jika kita tarik ulur sejarahnya, saya tak berada disini
sampai bisa menjalani perkuliahan hingga semester 7 saat ini. Karena modal
nekatlah yang membawa saya kemari, bisa meliat teman-teman semua.
Saya mengukir itu dalam setiap langkah dan
detik sehingga menjadi sebuah sejarah panjang yang bisa saya ceritakan kepada
anak-cucu saya kelak. Mudah-mudahan perjalanan ini membawa sebuah sejarah yang
sangat penting untuk diceritakan kepada keluarga dan teman-teman. Jikapun tidak
ada yang tau mengenai kisah hidup ini sekurang-kurangnya anak dan istri saya kelak
yang tau(InsyaAllah). Menjadi sebuah petinggal yang bisa mereka ceritakan
nantinya.


0 Komentar