Mengapa saya tetap berada
disini ? Mungkin ini salah satu yang terbaik buat saya. Saya berada disini dengan niat bisa mempelajari
lebih dalam tentang keilmuan filsafat dan keagamaan yang berkembang pada abad
modern ini.
Tapi seiring waktu
berjalan sehingga saya terdampar disebuah jurusan Ilmu Aqidah (IQ) di Fakultas
Ushuluddin yang sebelumnya pernah juga diganti fakultasnya yaitu Fakultas
Ushuluddin dan Studi Agama.
Sedikit saya bercerita
tentang krolonogis mengapa saya ada di sini? Pertama saya mendaftar di
Ushuluddin tidak melihat fakultasnya, tapi saya melihat jurusannya. Dan Alhamdulillah saya lulus, di jurusan
Pemikiran Politik Islam (PPI). Pada waktu itu tiga jurusan saya pilih yaitu
Perbandingan Mazhab di fakultas Syari’ah dan Komunikasi Islam di fakultas
Dakwah.
Dan seperti yang saya katakan
diatas tadi, bahwa seiring waktu
berjalan serasa tak percaya dengan hal itu. Bisa terjadi seketika. Tapi itulah
kenyataannya. Banyak teman-temen yang mengkritik jurusan tersebut. Seakan-akan
jurusan itu yang menentukan masa depan mereka.
Padahal menurut paradigm saya
jurusan itu tidak menjamin seorng itu sukses atau tidaknya. Namun, tergantung
bagaimana kita mengaplikasikan ilmu kita dan seberapa skill kita dibidang apapun.
Akhirnya semester empat kami beralih jurusan dari PPI ke Aqidah Filsafat. Teman-teman tetap saja mempermasalakan tentang masalah pergantian jurusan tersebut. Karena yang mereka inginkan bahwa bagaimana mereka menggali ilmu politik yang selama ini muncul dalam dunia Islam. Dalam politik memang ada kaitannya dengan filsafat. Tapi, teman-teman tetap saja mengkritik jurusan tersebut, meskipun mereka menerima dengan hati yang tersayat.
Memang saya sendiri kualahan dengan sikap pada pimpinan fakultas. Bukannya membuat sebuah jurusan itu menjadi mendiri, tapi malah menghapus jurusan tersebut. Ntalah, saya kurang tau juga dengan sikap pimpinan fakultas waktu itu. Terasa ada sesuatu dalam pembentukan jurusan tersebut. Dan ada yang ditutup-tutupi dengan hal itu.
Kami disitu merupakn letting yang ketiga padahal. Tapi apa bisa buat menerima dengan hati yang ikhlas dijurusan Aqidah dan Filsafat. Dengan dijurusan yang baru saya merasa menemukan sesuatu yang tak bisa ungkapkan dengan kata-kata .. Dan disemester limalah saya menemukan tentang fungsional filsafat itu dan dasar-dasar filsafat dalam penguatan aqidah.
Tiba-tiba dari aqidah dan filsafat dirubah menjadi ilmu aqidah. Teman-teman yang sudah aqidah dan filsafat menjadi sebuah diskusi. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari teman-teman.
Sehingga teman-teman berinisiatif membuat responder terhadap tentang jurusan. Seperti Nazari Mahda dalam blogspotnya ( http://curhatanhatee.blogspot.com/ )
mempostingkan dengan judul DARI AQIDAH FILSAFAT MENJADI ILMU AQIDAH (12 Mai 2014) dan INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA WAWANCARA (7 Oktober 2014).
Didalam judul INSTRUMEN
PENGUMPULAN DATA WAWANCARA disitu berbagai tanggapan dan masukan terhadap pimpinan
fakultas dan kritikan yang membangun. Namun, denga hal itu semua responder
menanggapinya dengan berbagai paradigmanya masing-masing. Ada yang menanggapi
dengan sikap positif dan negative.
Salah satunya dari hasil responden mengatakan, "Ketika jurusan ubah maka mata kuliah pasti diubah juga. Selama ini makanan kita sehari adalah filsafat. Dan sekarang ini nama jurusan kita tidak ada lagi filsafatnya. Ngomong-ngomong, jika telah diganti menjadi ilmu aqidah, maka matakuliah filsafat bakal hancur. Padahal jurusan Aqidah Filsafat merupakan jurusan yang tertua difakultas Ushuluddin dan otomatis gelar serjananya juga berbeda ".
Berbagai macam problem
yang muncul ketika itu. Dengan demikian sebagian menerimah dengan lapang dada. Dan
sebagian juga akan menerima dengan terpaksa. Tapi menurut saya semua jurusan
itu sama. Tergantung kita saja bagaimana mengamalkan dan bagaimana
meimplentasikannya, seperti yang saya katakana diatas.
Dengan berbagai problem yang
kita hadapi maka menjadi sebuah kedewasaan untuk kita bisa menjadi yakin bahwah
filsafat itu merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang slalu dalam ilmu
pengetahuan. Sehingga filsafat digunakan dimana saja. Bukan berarti filsafat
itu dinomor duakan dari semua ilmu.
Dalam perjalanan sehingga
menjadi sebuah epistimologi yang benar-benar mengagungkan keagungan ilmu
pengetahuan dan keesaan Tuahan. Meskipun dalam perjalanan berubah-rubah perti
yang diatas tadi.
Goresan: Ali Hanafia
Semester: XIII (Tujuh)


0 Komentar