Ali Hanafia |
Sedikit saya cerita tentang profil kehidupan saya. Mungkin teman-teman sudah mengenal saya (bagi yang tentu mengenal saya), tapi alangkah baiknya saya memperkenalkan diri dulu. Supaya kawan-kawan tau nama lengkap dan sedikit tau juga tentang sejarah hidup saya. Nama lengkap Ali Hanafia anak dari pasangan Kasni bin Ajidin dan Ahminati binti Sabudin (almarhumah), saya sering dipanggil oleh teman-teman di masa MTs dan SMA dengan sebutan Ali. Tapi, di keluarga sering di panggil nama saya dengan sebutan Fia atau Hanafia. Saya lahir pada hari selasa, bertepatan tanggal 14 Mai 1993 di Busung (Simeulue, Aceh).
Ketika saya lahir, kata orang-orang sih, saya ini kecil sekali. Tapi sekarang uda gede, hehehe ... Kami dulu tinggal di Busung, ketika Ayah dan Ibu nikah sampai saya lahir dan berumur enam bulan lebih kurang. Namun, ketika itu kami pindah ke Nancawa, kampung Ayah. Karena sesuai dengan permintaan sang Ayah. Kampungnya jauh dari kota, masuk perdalaman hutan, cuma satu-satunya desa yang ada disitu. Lebih kurang sih, jauhnya dari jalan raya sekitar 4 Km di sana orang-orangnya pada masih kolot, tapi sekarang nggak lagi, uda modern kok. Hehehe ... Kami hidup sederhana disana, dengan serba berkecukupan. Ayah seorang petani, yang tiap hari pergi kesawah untuk mencari sesuap nasi. Dan saya dititipkan pada nenek tercinta jika Ayah dan Ibu pergi kerja. Setiap hari begitu perkerjaan Ayah dan Ibu. Pergi pagi, kembali sore. Kadang-kadang juga saya dibawah ke Busung, oleh Bunda sambil ke tempat nenek.
Hampir tiga tahun kami tinggal di Nancawa, kami sekeluarga hijrah ke tempat tinggal kami sekarang yaitu Ulul Mayang yang jauh dari desa Nancawa, hanya beda Kelurahan aja. Alasan ayah hijrah ke desa itu, untuk bisah mengaduh nasib yang lebih baik dari dulu. Alhamdulillah, kami bisa mengadu nasib tersebut. Hanya modal pas-pasan. Oa, sebelum kami hijrah ke Ulul Mayang saya sudah memiliki adik laki-laki baru berumur beberapa bulan. Namanya Baidul Khairi, tapi sejak SD uda diganti namanya dengan nama Baidul Rahman . Padahal lebih bagus nama yang pertama itu. Tapi, nggak apa-apalah. Dan pada tahun 1997 itu, kami resmi berada didesa tersebut.
Hari demi hari, kami sekeluarga menikmati suasana kampung baru, dengan sejutah kenangan. Bahagia, duka cita dan berbagai derita yang kami alami dikala itu. Ayah yang sangat gigih mencari nafkah buat sang istri tercinta dan anak-anaknya. Ayah tidak pantang menyerah, walau pun kami tinggal di hutan yang berantara cukup beberapa rumah disana. Jauh dari jalan raya, dan serbah kekurangngan. Namun, Ayah tetap kaku menghadapi semua itu. Jika saya bercerita disini, terlalu panjang, tapi tak mengapa saya hanya bercerita isian-intinya saja, dari cerita pengalaman hidup saya. Di awal-awal kami tinggal di desa tersebut, kami hanya bisa makan ubi, makanan kami sehari-hari. Jika Ayah pergi mareke batok (cari sagu) kami makan sagu. Tapi, jika tidak, maka kami hanya bisa makan ubi yang direbus saja. Itulah awal dari perjalanan hidup kami di Ulul Mayang yang penuh sejutah kenangan yang tak bisa terlupakan. Uang hanya bisa membeli beras beberapa moct saja. Itu pun tabungan Ibu. Sesekali saya dan adik makan nasi, tapi mereka Ayah dan Ibu makan ubi. Sengat menyedihkan.
Tahun pun berjalan, kami bertani dihutan itu. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit kami sudah mendapatkan secuil kebahagian karena kami bisa makan beras sekeluarga. Saya pun sudah berumur 7 tahun, sudah bisa sekolah. Saya sekolah ke Busung dan tinggal di tempat nenek. Itu pun hidup di gunung lagi. Memang sudah nasib, uda tinggal di gunung tinggal lagi digunung. Wala-wala ... tapi nggak begitu jauh sih, hanya 2 Km dari rumah nenek. Tak terasa sudah satu tahun saya sekolah di Busung, sudah naik kelas 2. Maka Ayah pun memindahkan saya, kesekolah Ulul Mayang tempat kami tinggal sekarang. Tapi jauh sangat, 7 Km dari rumah ke sekolah. Alasan ayah memindahkan sekolah saya karena saya sudah gede, uda bisa jalan jauh. Itu alasannya.
Saya menikmati semua itu, kami berjalan kaki setiap pergi sekolah. Dan saat itu rumah saya yang paling jauh dari sekian banyak rumah-rumah yang ada di gunung itu. Saya setiap pagi sudah bangun jam 5 pagi, untuk siap-siap pergi sekolah. Kami berjalan dengan bareng-barengan dengan teman-teman, itu pun jalannya becek tak bisa pakai sepatu dari rumah. Hanya bisa dipakai ketika sudah sampai dijalan pemilihan. Itu pun sepatu kami saat itu sederha, sepatu gamber sapai kelas 6 saya memakai sepatu gamber itu, harganya nggak segitu mahal 6000an. Itu merupakan kenangan yang terindah di masa-masa SD yang sampai sekarang masih terenga-engah dibenak ini. Semoga bisa menjadi saksi di Akhirat kelak. Amiiinn. Dan waktu terus berjalan, seperti biasa kami pergi sekolah dengan sanda gurau sepanjang jalan dan penuh tawa dan duka. Tak terasa saya pun sudah kelas 3 SD. Itulah waktu.
Saat itu, saya dianggap oleh teman-teman jenius juga. Namun, saya hanya bisa tersenyum saja melihat teman-teman yang mengatakan saya pintar. Saya katakana dalam hati semua orangkan pitar, kita aja kadang yang nggak mau belajar. Saya senang saat itu bisa meraih prestasi. Tapi, kala itu kami di Timpah musibah yang luar biasa dan sangat menyedihkan bagi saya dan adik-adik. Pada saat itu bertepatan bulan Zhulhijjah, hari raya kurban. Tanggal 27 Februari 2002 kala itu. Dengan wafatnya ibunda tercinta, saya sangat terpukul waktu itu. Saya hanya mengucapkan Innalillahi wa innaillahiraji'un dengan hati hampa, penuh tangisan, sedih tiada tara. Dan yang lebih menyedikan ketika itu, ibu meninggalkan adik tercinta yang baru lahir 1 jam melihat dunia. Dan ibu pun pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Hanya bisa bersabar dan sabar dan terus bersabar. Saya pikir Itu semua sudah ditentukan Allah SWT di Laufulmahfutnya. Kami hanya bisa berdoa semoga ibunda tercinta mendapatkan surganya Allah. Toh, ibu juga jihad kata orang. Karena ibu melahirkan adik tercinta dan adik alhamdulillah selamat, hanya saja Ibu meninggalkan kita semua untuk selamanya. Itulah pengorbanan sang ibu, bertarung mempertahankan hidup dan matinya demi melahirkan anak-anaknya. Betapa besarnya jasa sang ibu, tak bisa kita balas. Tak heran juga Rusulullah menyuruh kita untuk berbakti kepada Ibu sampai-sampai tiga kali Rasulullah menyuru kita untuk berbakti kepada Ibu dan baru kemudian Ayah. Saya tak bisa membalas jasa ibu dan saya merasa belum berbakti kepada beliau. Saya bersalah, dan saya juga nggak mengenal betul wajah ibuku. Semoga kita bisa bertemu di jannahNya Allah. O ... o ... o ... h IBU. Dan semoga amal ibadahmu diterimah disisinya. Amiiiiinn
Saya saat itu galau, karena membayangkan keluarga kami yang hanya dibimbing oleh sang Ayah. Ayah tak sebanding dengan ibu, mungkin itulah yang terbaik buat kami anak yang ditinggalkannya, sehingga kami bisa mendiri menjalankan hidup ini. Saya dengan adik laki-laki tinggal bersama ayah, kami mengurus segala yang dikerjakan dirumah dan saya Ayah pergi mencari nafkah buat kami. Kami menyuci, memasak dan membersihkan rumah. Sedangkan adik perempuan yang sin NCU (ketiga) tinggal bersama nenek di Nancawa. Oa, saya lupa memperkenalkan nama adik saya yang ketiga yaitu Dina Ainun dan adik yang sibok-sibok namanya Dinda Sholeha. Sementara Dinda tinggal bersama bunda saudara Ibu, semenjak ia lahir, ia tinggal mersama bunda. Bundalah yang mengurusnya penuh dengan kasih sayang, dijaga seperti anak sendiri dan dialah yang menyusuinya sehingga sampai saat ini Dinda masih bersama bunda. Hanya sekali-sekali Dinda kerumah dan diapun sudah dianggap sebagai anak kandung bunda.
Dan saat itu saya pun naik kelas 4, dan adik pun masuk sekolah. Kami berdua kakak adik pergi sekolah tiap hari dan tidak lupa kami selalu mempersiapkan apa yang harus disiapka untuk Ayah sebelum pergi sekolah. Kami sekolah seperti biasa, jalan diterik matahari yang membakar kulit. Jika musim hujan becek mintak ampun samapai-sapai banjir tidak bisa sekolah. Itulah kisah memperjuangkan cita-cita. Ini merupakan sebuah misi untuk mencapai kesuksesan (saya berbicara dalam hati). Ayah pun sedih melihat kami setiap hari dengan tugas wajib. Maka Ayah pun menikah dengan salah seorang perempuan yang nggak memiliki anak. Maksud Ayah untuk mengurangi beban kami. Alhamdulillah , kami legah dari berbagai tugas-tugas itu.
Dengan adanya Ibu baru / ibu tiri tidak sebanding dengan Ibu kandung, meskipu kami tak pernah disakiti. Mungkin dia tak memiliki anak makanya kami disayangi, itu anggapan kami. Semoga bisa terbalaskan jasa-jasanya. Nama Ibu itu Aisyah seperti nama Istri Rasulullah. Dengan saat itu adik perempuan yang hidup bersama nenek pun tentu tinggal bersama kami. Waktu terus berjalah, tak terasa saya sudah MTs / SMP. Sekolah MTs jauh dari rumah 8 Km menuju sekolah, kami menikmati itu semua denga tiap hari mendayung sepeda di tengah terik matahari. Kami melakukan itu, selama 3 tahun. Dan saya pun tak kalah saing dengan teman-teman. Saya selalu mendapatka juara satu atau dua dari kelas satu sampai kelas tiga MTs. Oa, saya lupa memperkenalkan nama sekolah saya yaitu MTs Swasta Suak Lamtan, Kecamatan Teupah Selatan, Kab. Simeulue, Aceh, masih satu kecamatan dengan desa saya, hanya tiga desa antaranya.
Alhamdulillah, saya lulus dari MTs tersebut, dengan nilai pas-pasan. Mengapa saya katakan pas-pasan banyak diantara kami yang nggak lulus, hanya bisa mengikutu ujian paket B. Tapi saya bangga bisa lulus. Karena itu semua hasil ilmu saya ketika menduduki tiga tahun terakhir, tampa pertolongan apapun. Saya khawatir atau galau bahasa saat ini, ingin lanjut atau tidak. Maka, saya bertekat untuk lanjut sekolah kekota ternama di Kabupaten Simeulue dengan modal nekat. Alhamdulillah , saya lulus tes di salah satu sekolah terfavorit di Simeulue ketika itu, dan sangat terkenal. Saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Allah SWT. Berkat kerja keras dan cita-cita saya akhirnya lulus juga. Saya sekolah dengan tinggal ditempat teman dari kampung juga saat itu. Dan saat itu juga, saya mendapat berbagai kegiatan baik dari internal sekolah dan eksternal sekolah. Bahkan saya bisa jalanan ke Jakarta dan ikut MTQ tingkat Kabupaten Simeulue, utusan Kecamatan Teupah Selatan. Saya bangga bisa membahagiakan orangtua saya. Saya berandai-andai kala itu, jika masih ada ibu. Saya akan bersorak bergembira bersama beliau. Tapi hanya saja air mata yang bisa menetes kepipi, senang bercampur sedih suda terpadukan dalam satu wudhu itu.
Pretasi itu, bukan hanya didapat di SMA, tapi waktu SD pun saya sudah pernah ikut olimpiade matematika Se-Kabupaten Simeulue. Ini merupakan salah satu kesuksesan yang diberikan Allah kepada hambanya yang selalu berikhtiar dan berdoa (saya mengatakan dalam hati). Dan berkat kesungguh-sungguhan dan cita-cita. Tahun pun berlalu, tak terasa sudah tiga tahun sudah menduduki bangku SMA. Oa, saya sekolah di SMA Negeri 1 Simeulue Timur, ibu kota Kabupaten Simeulue. Saya sambil kerja sekolah, kerja bangungan kek, atau ngajar anak ngaji atau yang menghasilkan uang, yang penting halal. Saya jarang pulang kampung, setahun sekali pulang kapung. Tinggal di Mesjid, kadang-kadang tempat kerja atau kantor TPA. Dengan itu, saya bisa membiayai sekolah dan ada juga dapat beasiswa dari sekolah. Saya juga berprestasi, pernah mendapatkan juara dua dan tiga. Yang penting masih tetap sepuluh besar. Jurusan saya IPS saat itu. Saya memilih itu karena saya orangnya social. Makanya saya pilih jurusan IPS. Hehehe ...
Allah memberi jalan kepada hamba-hamba yang dicintainya, ketika itu saya lulus dari SMA dan bisa melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Saat ini saya kuliah di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dengan modal pas-pasan. Dan jurusan saya paling ditakuti semua orang atau paling nggak tertarik masuk kejurusan saya. Jurusan Aqidah Filsafat, orang-orang takut mempelajarinya, takut sesat. Takut tentang pengkajian tentang Tuhan. Tapi saya selalu ingin mempelajarinya. Karena penasaran tentang pengkajian Tuhan, alam, dan manusia. Tapi dilandaskan oleh Al-Qur'an dan Al-Hadits, jika nggak maka bisa-bisa juga sesat. Heheheh ... (ngeri). Saya kuliah sambil kerja kecil-kecilan, yang bisa menghasilkan uang. Dan sekarang sudah semester V (sepuluh). Semoga cepat clar kuliah ini. Dan cepat cari zaujah. J . Doakan ya. Heheee ...
Mungkin sampai disini saya cerita hidup saya, padahal banyak Sempurna yang perlu saya ceritakan disini. Tapi hanya waktu yang nggak mengiizinkan. Hehehe (malas nulis). InsyaAllah, saya masih banyak cerita tentang pengalaman-pengalaman hangat dalam hidup ini. Semoga ada manfaatnya, yang salah itu kekhilafan saya sendiri, yang benar datangnya dari Allah. Saya menyadari dalam penulisan ini sungguh sangat kacau dalam penulisannya atau dari kata-kata yang nggak tersusun rapi atau susunan tulisannya, bahkab tata bahasanya yang Ambur adur. Mohon saran dan kritiknya ya.
wassalam
Goresan Tinta: Ali Hanafia
2 Komentar
InsyaAllah doain yo broo